Tidak.

Ini tidak baik.

Sama sekali tidak baik.

Aku tidak bisa berbaur dan membuat kelompok seperti mereka yang tampak tenang melakukan interaksi.

Mereka semakin akrab saja kalau dilihat dari bangkuku yang berada di barisan tengah paling belakang.

Untuk kesekian kalinya, aku merasa menjadi kerikil di antara tumpukan emas.

Jika saja mereka tak sengaja melihatku yang seperti kambing cengo begini, harga diriku bakal hancur.

Tersentak, ada seorang gadis sebaya yang menaruh tasnya di atas meja. Gadis itu menarik bangku dan mendaratkan bokongnya di sana.

Target yang bagus.

"A- Tas yang bagus!" Pujianku disertai senyum kikuk, berharap gadis itu membalas.

Dia melirik!

"Bagus?" Sebelah alisnya naik. "Lebih tepatnya cantik. Lo mau tau beli di mana?"

Aku manggut-manggut.

"Cali. For. Nia," ucapnya kemudian dan tersenyum.

Aku kembali manggut-manggut dan berpikir keras. Di mana California? Lupakan. Apa topik selanjutnya?

Oh... Nama!

"P-Perkenalkan, namaku Ai-"

"Ku?" Dia mengulangi salah satu suku kata ucapanku yang sempat dia potong. Kemudian, dia tertawa. "Lo dari desa mana, ...,"

Menggantungkan kalimat. Aku rasa dia tidak tahu namaku.

"Ailee."

"... Ya, Ailee," setelah berhenti tertawa, dia melanjutkan. "Oke, Ailee. Gue Meisie."

Oh, jadi nama dia Meisie. Nama yang cantik, seperti rupanya. Yang menjadi ciri khas Meisie adalah memakai aksesoris tubuh lengkap. Anting, kalung, cincin, gelang, dan gelang kaki-semua itu berwarna putih layaknya mutiara.

Meisie juga tak segan menggantung beberapa simbol cantik di resleting tasnya yang membuat tasnya menimbulkan bunyi gemerincing setiap kali dia melangkah.

Meski begitu, aku sangat senang.

Begitu aku mengulurkan tanganku, Meisie hanya menatapku heran. "Kenapa? Mau salim?"

Padahal aku berniat untuk mengesahkan perkenalan ini.

Menggeleng. "Enggak. Aku mau...,"

Apa ini?

Sementara hidung kujepit, aku mengedarkan pandangan. Mataku menangkap sosok gadis berjalan setengah melompat ke bangku depan mejaku. Dia menatapku dan Meisie secara bergantian. "Gue Mika dan gue punya parfum baru. Gak murahan, kok. Dibeliin pacar gue. Produk impor."

Saat gadis norak Mika ini menyebut produk impor, nada bicaranya sepelan berbisik.

Meisie memutar bola matanya. "Jangan salah. Gue juga punya cowok. Bukan lo doang,"

"Masa? Gue gak percaya,"

"Liat, nih!" Meisie memperlihatkan lockscreen ponselnya ke hadapanku dan Mika. Di sana terlihat Meisie dan seorang laki-laki saling merangkul. Aku agak jijik melihat pakaian Meisie yang begitu terbuka. Backgroundnya pantai. "Masih gak percaya?"

Mika berdecih. "Main, kok, ke pantai? Ke mall, lah! Pantes kulit lo putih merah begitu kayak bendera,"

"Halah. Ngaku sering ke mall tapi selera parfum lo selevel sama ketek supir angkot. Mendingan gue, eksotis,"

Aku berusaha menengahi, "Eh, udah-udah."

"Bodo, yang penting pacar gue kaya. Gak kayak pacar lo,"

"Yang penting pacar gue gak pedopil,"

"Udah!"

Setelah setengah berteriak, aku menutup mulutku rapat-rapat dan terkekeh pelan begitu separuh murid di kelas menatapku heran.

"Ailee,"

Aku menoleh ke Meisie dan Mika secara bergantian, walau hanya Meisie yang memanggilku. Aku keheranan dengan ekspresi mereka yang aneh. "Kenapa?"

"Lo udah punya pacar, ya?" Tanya Mika.

Mataku membulat. "Ha? Pacar?"

"Hm, tapi gak mungkin dia punya pacar. Polos banget,"

"Eh, Anak Pantai. Cewek polos gak nutup kemungkinan kalo dia punya pacar," iris Mika beralih ke arahku. "Pacar gak ada, mungkin mantan ada. Iya, 'kan?"



Hayoooo, pada penasaran sama kelanjutannya... jangan lupa klik link di bawah ya...