sedih, kesepian, manusia

LARA

 Oleh: Kinanti Alfatika

 

“Untuk sementara waktu kita gak ketemuan dulu ya,” ucap Rara pada Aldy.

“Emang kamu mau ke mana?” tanya Aldy.

“Aku mau ikut Bunda ke Puncak,” jawab Rara.

“Okay, tetep kirim kabar ya,” ucap Aldy. Rara hanya menganggukkan kepalanya tanda menyetujui permintaan Aldy.

Satu bulan sudah Rara pergi bersama ibunya. Namun, sampai kini tak ada kabar dari Rara. Pertemuan hari itu menjadi pertemuan terakhir Aldy dengan Rara. Aldy mencoba mendatangi rumah Rara, tapi rumah itu tampak kosong. Hanya Mbok Nah saja yang ada di rumah itu.

Kesibukan di Kampus membuat Aldy sedikit teralihkan. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Tiga bulan sudah dia tak mendengar kabar tentang Rara. Dicobanya menghubungi gadis itu. Namun, teleponnya tak dapat tersambung. Beberapa kali Aldy mencoba mendatangi rumah Rara dan bertanya pada Mbok Nah soal keberadaan Rara. Namun Mbok Nah tidak mau memberikan informasi apa pun soal Rara.

Aldy dan Rara bersahabat sejak kecil, mereka selalu satu sekolah meski tak selalu satu kelas. Kedekatan hubungan mereka membuat banyak orang mengira kalau mereka adalah sepasang kekasih. Mereka selalu pergi dan pulang sekolah bersama-sama. baru kali ini mereka berpisah.

Rara adalah gadis cerdas dan periang. Bandana warna-warni kerap kali menghiasi rambutnya yang panjang terurai. Sementara Aldy adalah pemuda atletis yang tak kalah cerdas dari Rara. Mereka berdua sering kali menjadi wakil dari sekolah setiap kali ada lomba Olympiade Mata Pelajaran.

Beberapa bulan sebelum kejadian itu sikap Rara memang sedikit berubah. Dia menjadi sedikit lebih pendiam, tak selincah biasanya.

“Hai! Kok bengong. Lagi mikirin apa sih?”

“Eh, kamu ini … bikin kaget aja, Dy.”

“Lagi mikir apa sih Ra?” tanya Aldy penasaran.

“Enggak kok, gak mikir apa-apa,” tukas Rara mengelak. “Gimana tugas praktikum kamu udah selesai belum? Kalau udah bantuin kerjain punya aku ya,” ucap Rara sambil mengedipkan sebelah matanya pada Aldy.

“Beuh, kebiasaan,” ucap Aldy sambil mengacak rambut Rara.

“Jadi gak mau nih bantuin punya aku?” ucap Rara pura-pura merajuk.

“Iya iya aku bantuin. Dasar bawel,” goda Aldy pada Rara.

Aldy mengingat kenangannya bersama Rara. Dia merindukan canda dan kemanjaan gadis itu. Ada rasa yang berbeda dirasakan oleh Aldy saat mengingat Rara. Jantungnya terasa berdetak lebih kencang ketika dia mengingat sahabat terbaiknya.

Sementara itu di tempat yang berbeda seorang gadis cantik sedang berjuang melawan penyakit yang dideritanya. Ya, dia adalah Rara … gadis itu terkena Leukemia. Rara tak ingin seorang pun tahu soal ini. Hanya kedua orangtuanya dan Mbok Nah yang mengetahui soal sakit yang dideritanya.

Setiap hari Kinanti menemani dan merawat putrinya. Seringkali diam-diam dia menangis karena tidak tahan melihat putri semata wayangnya menderita menahan sakit. Diusapnya kepala gadis cantik yang sedang tertidur pulas setelah dokter menyuntikkan obat pereda nyeri.

“Lekas sembuh Bidadari Kecilku,” ucap Kinanti lirih sambil mengecup lembut puncak kepala Rara. Kinanti pun meninggalkan Rara untuk beristirahat. Sambil menunggu putrinya bangun dia menyiapkan makanan untuk Rara jika nanti dia bangun.

Beberapa jam kemudian Rara pun bangun, “Bun …,” ucap Rara memanggil Kinanti.

“Iya, Sayang …,” jawab Kinanti.

“Rara haus Bun,” ucap Rara.

Kinanti pun mengambilkan gelas berisi air lalu membantu putrinya untuk minum.

“Makasih, Bun …,” ucap Rara.

Rara merindukan Aldy sahabatnya. Namun, dia tak ingi Aldy melihatnya dalam kondisi seperti sekarang ini. Rara menyadari jika dia mulai jatuh cinta pada sahabatnya. Maka dari itu dia malu jika pemuda itu melihat kondisinya yang tak lagi secantik dulu. Kini dia tak bisa lepas dari kursi rodanya. Tubuhnya yang mudah merasa lelah membuat dia harus mengunakan kursi roda untuk membantunya berpindah tempat.

Kinanti mengetahui jika putrinya sedang merindukan pemuda pujaan hatinya. Dia sering mendapati Rara sedang duduk melamun di atas kursi rodanya. Pada dasarnya Kinanti dan suaminya tak keberatan jika Kinanti menjalin hubungan dengan Aldy. Toh Aldy anak yang baik. Mereka sudah mengenal Aldy sejak kecil. Namun, dia menghormati keputusan putrinya untuk tak mengabari Aldy soal kondisinya saat ini.

Terdengar panggilan masuk dari gawai milik Rara, terlihat nama Aldy di sana sebagai pelaku panggilan. Rara hanya melirik dan membiarkan gawainya terus berdering tanpa berniat untuk menerima panggilan masuk  tersebut.

“Mengapa tak diangkat, Nak?” tanya Kinanti.

Rara hanya menggeleng lalu menundukkan kepalanya.

“Mau berapa lama kamu membiarkan Aldy bingung tanpa kabar seperti itu?” ucap Kinanti sambil mendorong kursi roda putrinya masuk ke dalam rumah.

“Rara malu, Bun …,” jawab Rara.

“Kamu mencintai Aldy bukan?” tanya Kinanti lagi.

Rara mengangguk membenarkan ucapan Sang Bunda.

Kinanti pun menasehati putrinya dan menguatkan hatinya. Jika memang lelaki itu memang benar tulus menyayanginya, maka dia akan menerima apa pun kondisi Rara. Akhirnya Rara pun luluh setelah mendengar wejangan dari bunda tersayang. Kini Rara mengijinkan untuk memberitahukan kondisinya kepada Aldy.

Kinanti pun menghubungi Mbok Nah dan menyuruh wanita paruh baya itu menceritakan kondisi Rara pada Aldy yang saat itu sedang berada di rumah mereka. Mbok Nah pun kemudian menceritakan kondisi Nona Muda kepada Aldy sesaat setelah menutup telepon dari majikannya.

Setelah mendengar penjelasan dari Mbok Nah Aldy pun berpamitan pulang. Dia pun segera bersiap-siap untuk pergi ke tempat Rara dirawat selama ini. Tak butuh waktu lama Aldy pun tiba di tempat Rara berada.

Rara terkejut melihat kedatangan Aldy yang tiba-tiba. Dia munutup wajahnya karena malu.

“Kenapa kamu gak pernah bilang kalau kamu sedang sakit, Ra?” tanya Aldy. Diraihnya kedua tangan yang menutupi wajah gadis itu.

“Aku malu, Dy. Aku—“ Rara tak melanjutkan kalimatnya.

“Ra, kita ini temanan bukan baru kemaren. Udah dari kecil kita berteman, apa yang membuatmu malu padaku?” tanya Aldy sambil berlutut mensejajarkan posisinya dengan Rara yang duduk di kursi Roda.

Rara hanya tertunduk dan diam seribu bahasa. Dia meremas kain yang menyelimuti kakinya

“Aku sangat merindukanmu, Ra … ijinkan aku menemani dan membantu merawatmu ya?” pinta Aldy.

Rara mengangkat kepalanya yang tertunduk karena terkejut mendengar ucapan Aldy.

“Aku mencintaimu, Ra,” ucap Aldy sambil menatap mata bening milik Rara.

“Tapi, Dy—aku—“ Rara tak dapat melanjutkan kata-katanya karena telunjuk Aldy sudah menempel di bibirnya.

Rara pun menerima cinta Aldy, karena sejatinya dia pun memiliki perasaan yang sama. Aldy dan Rara menikmati masa-masa kebersamaan mereka selagi masih ada waktu. Dokter memvonis usia Rara tak akan lama, maka dari itu mereka benar-benar mengukir kenangan indah di sisa hidup Rara.

Saat itu pun tiba, di mana Rara harus pergi untuk selamanya menghadap Sang Pemilik Hidup. Suasana sedih tergambar nyata dalam ruangan tempat Rara dirawat. Kinanti mengecup kening putrinya untuk yang terakhir kalinya.

“Selamat jalan, Ra. Kini dirimu tak merasakan sakit lagi. Tenang-tenanglah di sana, di rumah barumu yang lebih indah.” Lirih Aldy berucap di atas pusara gadis yang sangat dia sayangi. Dikecupnya batu nisan bertuliskan Candra Wulandari.

Rara sudah pergi untuk selamanya, tapi kenangan manis bersamanya akan selalu ada dalam ingatan dan hati semua orang yang pernah mengenalnya.

 

 

 

 

Bandung, 16 Juni 2021

 

 

                                                                          Bionarasi

 

Ati Kurniawati dilahirkan di kota Blora, 8 Maret 1975. Atie adalah panggilan akrabnya. Mulai belajar menulis cerpen ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama dengan menggunakan nama pena Kinanti Alfatika. Atie pernah berprofesi sebagai guru anak berkebutuhan khusus dari tahun 2000 sampai dengan Februari 2017. Saat ini Atie berprofesi sebagai pengusaha rajutan handmade. Atie dapat dihubungi di akun media sosialnya, Fb Ati Kurniawati, IG @kinanti_rajut.n.craft atau @kinanti_alfatika, wattpad @KinantiAlfatika