
Unhappy Ending
Oleh:
Anugrah Octavia
“Aska tunggu!” Ucap seorang siswi SMA di
lorong sekolahnya.
Itu Arsy. Seorang siswi
cantik nan mungil. Sudah sejak lama ia mengidolakan teman seangkatannya itu,
Aska. Tapi tak sedetik pun Aska membalas perasaan Arsy. “Aska coba deh,
sebentaaarrrr aja liat wajah Arsy. Aska pasti sukaaa..!” Ucap Arsy lagi setelah
menghentikan langkah kakinya di hadapan Aska. Laki-laki itu tak bergeming sama
sekali. Dia hanya melirik Arsy sesaat, lalu kembali menghadap ke depan.
“Gimana? Aska suka kan sama Arsy? Iya
kan?” Tanya Arsy lagi dengan sangat antusias.
Aska hanya menggelengkan kepalanya
perlahan dan lalu melangkah pergi.
“Ih Aska mau ke mana?! Arsy harus gimana
si biar Aska suka sama Arsy?! Arsy tuh beneran sayang sama Aska! ASKAAAAAA!!!!
ISH!” Teriak Arsy.
Aska menghentikan langkahnya lagi.
Sepertinya ada yang ingin disampaikan pada Arsy. Dengan segera Arsy berlari
mendekati Aska. “Aska berhenti karna mau bilang sayang juga ya ke Arsy? Iya
kan? Aahhhh Arsy tauuu, Aska pasti udah luluh kan sama Arsy hihhihiiii....”
Ucap Arsy kegirangan.
Beberapa saat Aska terdiam menatap wajah
Arsy dengan so cool.
“Gini ya, gue, gak suka, gak akan pernah
suka dan gak akan pernah sayang sama lo. Paham?”
Seketika raut wajah Arsy berubah 360°.
Senyumnya hilang begitu saja, tergantikan dengan wajah cemberut. Bibir
mungilnya mengerucut, terlihat menggemaskan. Dan sepertinya Aska sedikit
tertarik saat melihat wajah cemberut Arsy. Aska tersenyum tipis, sangat tipis,
bahkan hampir tidak terlihat sama sekali. “Nih anak lucu juga kalo lagi
cemberut. ” Gumam Aska dalam hati. Sepertinya Aska mulai menyukai Arsy.
“Gak usah cemberut. Jadi tambah jelek!”
Ucap Aska.
“Ish! Aska nyebelin! Aska tau gak sih, sakitnya
tuh di sini Askaaaa...!” Balas Arsy seraya menunjuk dadanya dengan ibu jari.
“Liat aja ya, nanti Aska pasti menyesal pernah bilang kaya gitu ke Arsy!”
Lanjut Arsy.
Arsy terlihat begitu kesal. Dia berjalan
dengan kaki yang di sentakan ke lantai. Persis seperti anak kecil yang merajuk
jika tidak di belikan permen.
🍁🍁🍁
Esok harinya, Arsy bersiap untuk lari
pagi, karena hari ini adalah hari libur, ia menyempatkan waktu untuk berolahraga.
Sepatu, topi, dan handuk dengan warna yang senada sudah melingkar di batang
leher wanita cantik itu. Dia berlari kecil menuju taman kompleks. Senyumnya tak
lepas dari bibir mungilnya. Siapa pun yang ditemuinya, pasti di sapa.
“Arsy! Mau ke taman? Bereng yuk?!” Ucap
wanita cantik yang terlihat seumur dengan Arsy.
“Eh Mel, hayu!” Balas Arsy kepada temannya
itu.
Itu Mely, teman sekelas Arsy. Mereka cukup
dekat, bahkan Mely pun tahu betapa cintanya Arsy kepada Aska. Oh tidak, tapi
sepertinya seluruh murid SMA Bhakti sudah mengetahui betapa gilanya Arsy pada
Aska.
Mereka melanjutkan langkahnya menuju
taman.
“Eh eh Ar, itu si Aska kan ya?” Tanya Mely
saat sampai di taman.
Arsy yang sedang sibuk mengelap
keringatnya itu seketika menoleh dengan semangat yang menggebu-gebu. “Mana Mel?
Mana?” Ucap Arsy dengan gerakan mata yang terus mencari ke segala arah.
Tanpa menjawab pertanyaan Arsy, Mely
langsung mengarahkan kepala Arsy ke tempat di mana Aska berdiri.
“ASKAAAAAAAA!!!!!!” Teriak Arsy ketika
setelah pupil matanya melihat sosok Aska.
Aska yang mendengar teriakkan Arsy lantas
menoleh. “Astagaaa!!! Ngapain si dia ada di sini?! Kabur ajalah.“ Ucap Aska
pelan.
Dia lantas berlari entah ke arah mana.
Sepertinya Aska lelah menghadapi kelakuan Arsy yang terus merengek meminta Aska
membalas perasaannya.
Tak tinggal diam, Arsy mengejar Aska
dengan begitu cepat. Ah iya, perlu di ketahui, Arsy pernah memenangkan
Olimpiade lari cepat tingkat nasional. Sudah pasti Arsy akan bisa mengejar
langkah kaki Aska.
“Hufttt... Cape juga.” Ucap Aska dengan
nafas terengah-engah di tengah jalan.
“ASKA AWAS!!!” Jerit Arsy dari tepi jalan.
Seketika Aska berdiri tegap dan melihat ke
arah belakang. Detik berikutnya;
“AAAAAaaaa...!!!!”
BRUK!
🍁🍁🍁
Detik demi detik berlalu. Hanya keheningan
yang terjadi. Bebauan obat tercium dari segala arah, sesekali melintas
orang-orang berpakaian putih rapi. Di ujung ruangan terduduk seorang wanita,
lengkap dengan seragam sekolahnya. Dia di dampingi oleh laki-laki berwajah
tampan, dengan mengenakan pakaian selaras. Itu Kris, kekasihnya Mely.
“Hiks...”
“Eh Mel, ja-jangan nangis lagi dong...”
Ucap Kris pada Mely.
Dengan sigap Kris menghapus air mata yang
mengalir di pipi Mely. Dan tak lama kemudian datang seorang dokter menghampiri
mereka berdua.
“Dok, gi-gimana keadaan Aska?” Tanya Mely.
“Aska sudah baikkan. Kalau mau jenguk,
silahkan, tapi jangan terlalu lama ya, dia perlu istirahat.” Balas dokter.
Tanpa pikir panjang, sepasang sejoli itu
masuk ke dalam ruang rawat. Terlihat jelas Aska yang sedang terbaring di sana.
Matanya mengerjap perlahan berusaha memperjelas pandangan.
“Aska, lo udah bangun?” Tanya Mely yang
berdiri tepat di sebelah kanan Aska.
Aska hanya mengangguk perlahan seraya
mengedarkan pandangan ke segala arah. Tangan kanannya menjulur ke arah kepala,
mungkin ia pusing setelah mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Perlahan
tubuhnya bergerak, berusaha bangun dan terduduk.
“Gue di mana?” Tanya Aska.
“Lo di rumah sakit As. Beberapa hari lalu
lo kecelakaan. Untungnya Arsy nolongin lo. Jadi lo gak luka parah.” Balas Kris.
“Sekarang Arsy mana?” Tanya Aska lagi.
Mely tak kuasa menahan tangis. Dia
berbalik badan, berusaha menyembunyikan tangisannya. Meski begitu, isak
tangisnya masih terdengar jelas di telinga Kris dan Aska. Dengan lembut Kris
mengusap usap punggung Mely, berusaha menenangkannya.
“Lo kenapa nangis?” Tanya Aska lagi dan
lagi.
Tak ada seorang pun yang bisa menjawab
pertanyaan Aska. Semuanya hanya membisu. Detik berikutnya Mely mengeluarkan
selembar amplop putih berisikan secarik kertas. Dia memberikannya pada Aska.
“Surat ini bisa jawab semua pertanyaan lo,
As.” Ucap Mely.
Aska meraih amplop itu dari genggaman Mely
dan lantas membukanya.
“Hai Aska, gimana keadaan Aska? Udah
baikkan? Arsy berharap Aska cepet sembuh ya! Arsy janji, Arsy gak akan gangguin
Aska lagi. Arsy janji gak akan ngejar-ngejar Aska lagi. Arsy minta maaf ya
Aska. Tapi Aska juga janji ya, Aska harus sembuh! Arsy gak mau liat Aska
tiduran terus di ranjang rumah sakit. Oh iya, Aska jaga diri baik-baik ya.
Jangan suka berhenti di tengah jalan! Untung aja waktu itu ada Arsy, coba kalo enggak,
bahaya tahu! Arsy pamit ya Aska. Arsy udah cape ditolak terus sama Aska. Arsy
mau istirahat dulu ya..? Bye Aska, jaga diri, jaga kesehatan ya? Arsy sayang
Aska!”
Setetes air mata tiba-tiba saja jatuh dari pelupuk mata Aska. Dia
tak sangka, begitu sayangnya Arsy pada dirinya sampai rela menyelamatkan Aska
dari maut.
“Gue juga sayang sama lo Ar.” Ucap Aska
pelan.
Sekarang semua itu sia-sia. Tak ada lagi
gunanya kalimat manis yang keluar dari mulut Aska. Semuanya sudah terlambat.
“Maafin gue Ar... Hiks... .” Sambung Aska
dengan isak tangisnya.
Sayang, semuanya sudah terlambat. Perpisahan
ini sangat menyesakkan bagi Aska. Ia pasti akan sulit memaafkan dirinya
sendiri. Karena secara tidak langsung, Arsy pergi untuk selamanya, karena
kesalahan Aska.
“Hargai dan jaga dia yang selalu ada. Karena
tak selamanya perpisahan selalu berakhir bahagia.” -Aska Manouel.
Bekasi, 29
Juni 2021
Bionarasi
Assalamualaikum,
Hai! Salam
kenal, namaku Anugrah Octavia, panggil aja Vani. Usia aku 17 tahun, asal Kota
Bekasi Jawa Barat. Aku hobi nulis cerita sejak aku SD. Oh ya, kalau ada kritik
dan saran, silakan e-mail atau DM aku ya hihhiii.....
Email: anugrahtaviani@gmail.com
Instagram:
@anugrahoctavia
0 Komentar